24.5 C
Yogyakarta
Rabu, Februari 21, 2024

Subardi dan Sejuta Cerita dari Warung Soto

Nama Anggota DPR RI dari Partai NasDem Subardi memang tak asing bagi warga Yogyakarta. Politisi yang akrab disapa Mbah Bardi itu kerap blusukan ke dusun-dusun untuk memantau program aspirasi yang ia kerjakan.

Di balik kesibukannya sebagai wakil rakyat, Subardi punya kebiasaan unik di setiap kunjungan. Rupanya, ia punya sering mampir ke warung soto langganan di berbagai tempat. Menurutnya, makan soto dapat mengembalikan semangat ditengah rutinitas padat.

“Memang suka nyoto dari dulu. Kita bisa makan ngobrol ringan dengan penjualnya sambil dengar cerita kehidupan,” kata Subardi sambari tertawa saat makan di di warung soto Ayam Miroso Adisucipto, Kamis (28/12/2023).

Diantara warung soto langganannya, Subardi paling sering makan di beberapa tempat, yakni Soto Ayam Miroso Adisucipto, Soto Ayam Pak Parmo Kridosono, Soto Sapi Pak Mustofa Jl. Magelang, Soto Pak Slamet Gamping, Soto Kadipiro Jl. Wates, Soto Ayam Pak Pas 1 Godean, dan Soto Tan Proyek Gunungkidul.

Di warung soto inilah, Subardi kerap bertemu dengan banyak orang dari berbagai kelas sosial. Ia mengaku senang karena sejak menjadi Anggota DPR, banyak masyarakat menyapa dia, mulai dari merespon isu-isu politik hingga menyampaikan berbagai aspirasi. Dari warung soto inilah, interaksi dengan lintas kelas sosial terjadi.

“Saya sering tiba-tiba diajak ngobrol warga, mulai dari pejabat, kepala daerah, atau para pekerja lepas. Soto itu kan simbol makanan rakyat. Warung soto itu menjadi wadah sosialisasi yang alamiah, itu bagus sekali,” terang Subardi.

Menurut Subardi, soal rasa di setiap warung memang berbeda-beda. Tetapi yang paling ia sukai adalah kesan dari setiap warung. Dari kesan itulah ia selalu ingin mampir menyapa para penjualnya hingga bernostalgia.

“Kita makan soto bukan sekedar makan selesai, bukan. Tetapi kita ingin menikmati suasana. Ada banyak cerita yang berkesan itu,” terang Mbah Bardi.

Soto memang sarat filosofi jawa, yakni ‘bagi roso’, ‘bagi roto’ dan ‘podho roso’, podho roto’. Semuanya memiliki arti sama, yakni kesetaraan dan saling berbagi. Bagi Subardi, pelajaran dari para penjual soto adalah ketekunan dalam berusaha. Kunci tekun ini lah yang akan membawa kesuksesan meski dihadapkan dengan tantangan dan persaingan.

“Kuncinya tekun. Ada yang dulunya kaki lima, sekarang punya cabang banyak. Ada juga yang dari dulu ya segitu saja karena ingin mempertahankan keaslian. Ada juga yang sudah diteruskan generasi kedua. Saya suka dengar kisah sukses mereka,” kata Mbah Bardi. (NK)

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles