25 C
Yogyakarta
Sabtu, April 13, 2024

Redam Paham Ekstrimis dengan Kearifan Lokal

Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap dua orang terduga teroris di Klaten dan Kota Yogyakarta, Jumat (2/4). Penangkapan ini merupakan rangkaian dari pengembangan penyidikan dari bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3) lalu. Diketahui, terduga teroris yang ditangkap di Yogyakarta berasal dari di Padukuhan Widoro, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul.

Legislator NasDem menilai, munculnya seorang terduga teroris dari Yogyakarta cukup mengagetkan. Pasalnya di tengah pandemi dan menjelang Ramadan, masyarakat Jogja cenderung fokus pada pemulihan ekonomi dibanding mengikuti paham-paham terorisme.

“Penangkapan kemarin mengagetkan masyarakat Yogyakarta. Apalagi menjelang Ramadan, masyarakat mulai menata ekonominya. Misalnya dengan berbagai usaha kecil,” kata Dwi Candra Putra, Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Minggu (4/4).

Harus diakui, paham radikal – sebagai cikal bakal tumbuhnya aksi terorisme mudah merasuki sebagian kalangan pemuda. Metodenya beragam, diantaranya melalui interaksi media sosial, dan organisasi yang tertutup.

Candra pun berharap, selain TNI-Polri, peran lembaga Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) agar lebih aktif membendung paham berbahaya kepada generasi muda. Caranya dengan pendekatan humanis dan berbasis kearifan lokal. Menurutnya secara institusi, Kesbangpol Kota Yogyakarta resmi sudah naik tipe per tanggal 31 Desember 2020 sebagaimana diatur Perda 4/2020.

“Saya membayangkan, Kesbangpol bisa berperan aktif dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Misalnya, menggalakkan seni, budaya, adat istiadat, dll. Nilai-nilai itu dimasukkan dalam ajaran nasionalisme dan pemahaman agama yang tepat,” jelasnya.

Kalangan pemuda memang memiliki jiwa agresif dan cenderung suka bertindak semaunya. Kondisi ini rentan dimanfaatkan kalangan tertentu. Bila tidak ada kontrol dari pemerintah, wadah sosialisasi kalangan pemuda bisa menjadi wadah penularan paham-paham yang berbahaya.

“Mulanya ingin mengkafirkan orang, merasa eksklusif, hingga menjadi ekstrimis. Ingin mengubah sistem negara dengan pemahaman agama yang keliru. Ini bisa dicegah dengan meningkatkan kewaspadaan dini termasuk dengan kearifan lokal tadi,” ucap Candra.

Sebelumnya diberitakan sebanyak 32 terduga teroris telah ditangkap hingga hari Minggu (4/4). Mabes Polri menyebut satu dari 18 terduga teroris itu merupakan otak pembuat bom di Gereja Katedral Makassar. (NK).

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles