Pancasila merupakan falsafah yang memandu jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila Pertama misalnya, membantu memahami, menjamin sekaligus berfungsi sebagai filter dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Demikian disampaikan Anggota MPR RI Subardi dalam sosialisasi 4 Pilar Bangsa (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Sleman, Yogyakarta.
Makna Sila Pertama adalah kewajiban negara dalam menjamin setiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadah. Tetapi terdapat filter yang membuat kebebasan beragama tidak menjadi akar perpecahan antar umat beragama.
“Jaminan beragama mengandung batasan dalam kerangka kehidupan berbangsa. Ada filter agar kebebasan itu tidak mengarah pada radikalisme, ekstrimisme, atau penistaan agama yang dapat memicu gesekan sosial,” kata Subardi saat sosialisasi 4 Pilar tahap Kesembilan di Gunungkidul, (9/12/2025).
Negara berfungsi untuk menjamin, memperjuangkan dan membantu agar tiap-tiap penduduk memiliki kebebasan mengekspresikan agamanya. Pemerintah tidak berwenang mengatur ibadah setiap agama. Sebagai sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa menggambarkan bahwa bangsa Indonesia mengakui keberadaan Tuhan sebagai sumber kehidupan.
“Pancasila memandu kita agar beragama tidak saling menghina atau memprovokasi. Pancasila juga menjadi filter agar perilaku kita sesuai dengan keluhuran nilai-nilai agama,” terang Subardi.
Subardi menjelaskan Sila ke-1 lahir dari semangat perjuangan bangsa Indonesia yang plural dan majemuk. Pada masa perumusan dasar negara tahun 1945, para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Maka dibutuhkan dasar negara yang mampu menyatukan seluruh perbedaan itu dalam satu nilai yang luhur.
Melalui berbagai musyawarah dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Sembilan, disepakatilah sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai dasar negara yang mengakui Tuhan, tanpa menonjolkan satu agama tertentu.
“Kita melihat pembentukan Sila Ketuhanan merupakan kompromi tertinggi agar bangsa yang majemuk ini bersatu dan abadi,” ujar Subardi.
Sila ke 1 menjadi simbol toleransi, kebebasan beragama, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam berkeyakinan. Sila Ketuhanan juga tidak sekadar menunjukkan keyakinan terhadap Tuhan, tetapi bangsa Indonesia meyakini bahwa semua kehidupan bersumber dari Tuhan. (NK)

