Mudik adalah fenomena migrasi non-permanen tahunan di Indonesia. Bukan sekadar perjalanan pulang kampung, mudik adalah fenomena sosiokultural yang mengakar kuat sejak puluhan tahun.
Demikian disampaikan Anggota MPR RI Subardi di hadapan peserta sosialisasi 4 Pilar Bangsa, (NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika) di Banguntapan, Bantul. Subardi menilai bangsa Indonesia patut bersyukur karena memiliki tradisi mudik yang tumbuh alami dari gerakan masyarakat. Dari tradisi ini, negara mampu membangun koneksitas antardaerah dengan lebih cepat dan terarah.
“Kita bersyukur tradisi mudik merupakan gerakan yang lahir dari masyarakat. Mudik menjadi bagian dari perjalanan bangsa, mengandung makna silaturahmi kolektif, pemerataan pembangunan, dan redistribusi ekonomi dari pusat ke daerah,” kata Subardi di Banguntapan, Bantul, Selasa, (17/3/2026).
Mudik juga berfungsi sebagai ritual sosial untuk merawat silaturahmi, identitas budaya, dan hubungan kebangsaan. Ini menjadi momentum mobilisasi manusia terbesar di Indonesia.
Istilah “mudik” sering dikaitkan dengan bahasa Jawa “mulih disik” (pulang sebentar) atau bahasa Betawi “menuju udik” (pulang ke kampung halaman). Tradisi ini berkembang dari sekadar perjalanan musiman menjadi pilar penggerak ekonomi dan perekat kohesi sosial.
“Kita bisa melihat mudik dari perspektif ekonomi pembangunan. Bahkan juga perspektif lingkungan, di mana polusi, kemacetan, hingga pembuangan sampah rumah tangga di Ibu Kota berkurang drastis selama periode mudik,” tambahnya.
Jika dilihat dari perspektif kebangsaan, mudik adalah cermin dari karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kekeluargaan. Di tengah perkembangan teknologi dan tekanan budaya asing, tarikan magnet kampung halaman tetaplah kuat.
“Mudik bukan hanya tentang pulang, tapi tentang menjaga identitas dan akar budaya di tengah arus modernitas yang deras. Kita bisa gali makna mudik dari nilai nasionalisme sila ke-tiga Pancasila,” tambah Subardi.
Tahun 2026 Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik Lebaran mencapai 143,91 juta orang, atau sekitar 50,6% dari total penduduk Indonesia. Daerah tujuan utama mudik adalah Jawa Tengah (38,71 juta orang), disusul Jawa Timur (27,29 juta orang) dan Jawa Barat (25,09 juta orang).
Pemerintah melihat mudik sebagai instrumen pemerataan ekonomi spontan. Konsumsi rumah tangga di desa meningkat tajam. Sektor transportasi, kuliner, hingga pariwisata daerah secara efektif mendongkrak ekonomi lokal. Perputaran uang selama mudik Lebaran 2026 diproyeksikan mencapai Rp148 triliun hingga Rp190 triliun. (NK)

